Sabtu, 13 Desember 2008

Jangan asal makan


Di balik kebiasaan kita mengkonsumsi makanan sehari-hari, mungkin tanpa sadar
kita melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya justru bisa membahayakn kesehatan kita.
Tulisan berikut ini mudah-mudahan bisa menjadi rujukan bagi kita agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman kita.

1. BOTOL PLASTIK
 Mungkin sebagian dari kita mempunyai kebiasaan memakai
 dan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT etc) dan
 menaruhnya di mobil atau dikantor. Kebiasaan ini tidak
 baik, karena bahan plastik botol
 (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or
 PET) yang dipakai di botol2 ini mengandung zat2
 karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai
 1-2 kali saja,jika anda ingin memakainya lebih lama,
 tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di
 tempat yang jauh dari matahari.
 Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik
 rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang
 kita minum. Lebih baik membeli botol air yang memang
 untuk dipakai ber-ulang2, jangan memakai botol
 plastik.
 
 2. PENGGEMAR SATE
 Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun
 setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya
 ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang
 dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya obatnya
 yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah
 makan sate. Karena sate mempunyai zat Karsinogen
 (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti
 Karsinogen. Jadi jangan lupa makan timun setelah makan
 sate.
 
 3. UDANG DAN VITAMIN C
 Jangan makan udang setelah Anda makan Vitamin C.
 Karena ini akan menyebabkan keracunan dari racun
 Arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari Udang
 dan Vitamin C di dalam tubuh dan berakibat
 KERACUNAN YANG FATAL dalam hitungan jam.
 
4. BAHAYA DIBALIK KEMASAN MAKANAN
 Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang
 sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang,
 kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan
 cenderung dianggap sebagai "pelindung" makanan.
 Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan
 kemasan. Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat memilik
 kemasan makanan. Kemasan pada makanan mempunyai fungsi
 kesehatan, pengawetan, kemudahan,  penyeragaman,
 promosi dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang
 digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu
 kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan.
 Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang
 dikemasnya. Inilah ranking teratas bahan kemasan
 makanan yang perlu Anda waspadai.
 A. Kertas.
 Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas koran
 dan majalah) yang sering digunakan untuk membungkus
 makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi
 batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal
 masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan
 menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke
 berbagai jaringan lain seperti ginjal, hati, otak,
 saraf dan tulang. Keracunan timbal pada orang dewasa
 ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain
 (sakit)& paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang
 terjadipun bisa bersifat kronis dan akut. Untuk
 terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam berat
 timbal, memang susah-susah gampang. Banyak
 makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan
 tempe goreng yang dibungkus dengan koran karena
 pengetahuan yang kurang dari si penjual.Padahal bahan
 yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya
 timbal makanan tsb. Sebagai usaha pencegahan, taruhlah
 makanan jajanan tersebut di atas piring.
 
 B.Styrofoam
 Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah
 menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam
 bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa
 styrofoam diragukan keamanannya.
 Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini
 menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah
 kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat
 dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu
 mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman
 dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan
 yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan.
 Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan
 Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam
 dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat
 menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu
 penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada
 sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat
 bahan kimia karsinogen dalam makanan.
 
Dari beberapa sumber