Minggu, 04 Januari 2009

Expeditionary Fighting Vehicle, monster amfibi marinir AS

Sebagai kekuatan tempur yang bertugas di laut dan di darat, marinir jelas butuh peranti pendukung yang bisa "hidup di dua alam" alias amfibi. Marinir AS pun sudah menyiapkan tunggangan baru buat bertempur yaitu Expeditionary Fighting Vehicle atau EFV.

Kendaraan berupa tank amfibi tersebut sekarang masih dalam tahap uji coba dan diproyeksikan untuk menggantikan tank amfibi yang selama ini dipakai marinir AS yaitu AAV (Amphibious Assault Vehicle) atau LVTP (Landing Vehicle, Tracked, Personnel) yang varian awalnya sudah bertugas sejak era Perang Vietnam.
Keistimewaan tank amfibi baru ini seperti diungkapkan oleh Gizmag.com adalah kemampuannya yang melebihi kendaraan tempur amfibi serupa yang ada saat ini. Sebagai contoh, EFV ini bisa diluncurkan dari kapal pada jarak hingga 40 km dari pantai dan mengarungi laut dengan kecepatan 25 knot (sekitar 46 km per jam) dengan membawa tiga awak dan 17 personel marinir dengan persenjataan dan perlengkapan perorangan lengkap. Setelah mendarat tank amfibi ini bisa menjangkau jarak hingga 321 km dengan kecepatan hingga 75 km per jam. Marinir yang menumpang di dalamnya dijamin bisa tetap bugar ketika harus turun bertempur, soalnya kabinnya dilengkapi tempat duduk yang empuk dan alat pengatur suhu udara.
Sebagai perbandingan, tank amfibi BTR-50 yang dipakai marinir TNI-AL paling banter hanya bisa diluncurkan 10 km dari pantai dengan jangkauan ke darat maksimal 200 km. Kecepatan maksimalnya pun hanya sekitar 50 km per jam di darat.
EFV dipersenjatai kanon kaliber 30 mm tipe Mk46 Weapon System dan senapan koaksial berkaliber 7,62 mm. Pengembangan tank yang direncanakan bisa mulai dioperasionalkan tahun 2015 ini disebut memakan biaya hingga US$27 miliar atau Rp 293 triliun yang akan menghasilkan 573 unit tank. Jumlah ini mencakup 523 buah dari varian EVFP1 (angkut personel) dan 50 buah varian EFVC1 (komando).
Varian komando ini selain berisi tiga awak juga akan mengakomodasi tujuh personel untuk fungsi komando dan pengendalian operasi dan hanya dipersenjatai senapan mesin 7,6 mm. Varian ini juga dilengkapi peranti komunikasi suara dan data, akses ke sistem komando operasional terpadu, peta digital dan pengindera panas sehingga akan berfungsi maksimal untukmengkoordinasikan pergerakan pasukan dari tingkat batalion hingga brigade.
Kedua varian EFV ini juga sama-sama memiliki kemampuan proteksi terhadap ledakan ranjau serta serangan senjata Nubika (nuklir, biologi dan kimia). Desain bodinya juga disebut sudah mengantisipasi serangan senjata jenis granat berpeluncur roket alias RPG seperti yang banyak dihadapi pasukan AS di Irak dan Afghanistan. (R Bambang Aris S)

Spesifikasi teknis:
Bobot : 34,473 kg
Panjang : 10,67 m
Lebar : 3,66 m
Tinggi : 3,28 m
Daya angkut : 3 awak dan 17 personel
Lapisan pelindung : keramik/komposit
Mesin : mesin disel MTU MT 883 Ka-523
Daya : 2.702 daya kuda (di air), 850 daya kuda (di darat)
Rasio tenaga : 34,48 daya kuda/ton
Jangkauan operasi : 523 km (darat), 120 km (air)
Kecepatan : 72,41 km/jam (jalan raya), 46 km/jam (laut)
(BAS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar